Tips Pacaran Longdist

Hentikan percakapan sebelum ada pertengkaran…

Itu yang harus dilakukan saat ngobrol lewat telepon dengan pasangan. Segera tutup telepon saat pembicaraan mulai membosankan atau jeda antar topik terlalu lama. Jangan biarkan obrolan berakhir dengan tidak mengenakkan. Atau malah berujung pertengkaran.

Hubungan jarak jauh atau istilah unyunya Long Distance Relationship memang membutuhkan ketahanan mental tinggi. Siap diledek kapan saja dimana saja. Ada yang bilang, LDR itu pacaran pura-pura. Pacaran virtual. Alibi. Setengah jomblo. Tidak jelas. Nasibnya, terutama di malam minggu tak kalah tragis dengan kaum jomblo. Menjadi bahan ledekan.

Tetap harus diingat juga kebahagiaan itu tidak mesti selalu kita dapat dari pasangan. Atau hanya bersama pacar. Prinsip pacaran, bahagia bersama pacar tapi tetap nyaman ketika sendirian. Kalau membutuhkan pacar setiap saat, ya pacaran jauh menjadi mustahil. Sayang kan mesti putus kalau tiba-tiba pacar ketiban durian runtuh dapat beasiswa luar negeri? Ada teman yang selalu galau kalau tidak ketemu pacar. Postingan di jejaring sosial itu selalu keluhan tentang pacar. Aneh. Pertanyaanku, apa tidak punya kehidupan selain pacaran?

Pacaran dengan segala macam janji manis, ucapan sayang kamu setiap saat juga tidak selalu sehat. Bahkan, ketika diucapkan dengan

frekuensi tinggi, “aku sayang kamu” akan mengalami distorsi makna. Jangan ucapkan dia berkali-kali. Cukup ucapkan sekali-sekali. Bukankah kita semua menyenangi cinta karena misteri? Kalau diucapkan terlalu sering justru rasanya akan hambar. Tawar. Tanpa makna. Ceilah…

Kiat untuk menjaga hubungan jarak jauh adalah komunikasi dan kepercayaan. Setiap hubungan, baik pertemanan atau perpacaran kuncinya adalah kepercayaan. Kita memberi kebebasan sekaligus membebankan tanggungjawab suatu hubungan. Tanggungjawabnya apa? Yang sama-sama menjaga hubungan itu tetap awet. Caranya bagaimana? Ya itu tergantung bagaimana gaya pacarannya. Gaya dada, gaya punggung atau gaya anjing (aku ngomongin apa sih sebenarnya?).

Soal hasil akhir, ya tergantung pribadi masing-masing. Yang memiliki komitmenlah yang akan bertahan. Itu modifikasi teorinya Charles Darwin. Jerapah berleher panjanglah yang akan hidup. Tidak ada lagi tuh cerita pacaran saling mengikat dan membatasi. Pacaran yang baik itu kan bisa membuat kita tumbuh, melakukan dan berkembang sesuai pribadi masing-masing (bukan berkembang biak lho ya). Tidak saling mengubah tapi bisa saling menginspirasi. Bisa juga saling mengisi satu sama lain (halah, kalimat ini nggak enak banget kalau dipikir lebih jorok :p).

Nah, komunikasi menjadi hal mutlak dalam hubungan jarak jauh ini. Ini yang pengen aku tekankan di tulisan ini. Media ini macam-macam jenisnya. Ada jejaring sosial seperti twitter atau facebook. Ada Skype ketika kangen sudah memuncak. Ada Yahoo Messenger bagi yang lebih doyan chatting. Di era ketifatulansembiringin ini, keawetan pacaran jarak jauh sangat tergantung apa pelakunya melek teknologi atau tidak. Plus koneksi internet. Makin katrok, pelung hubungan berakhir makin tinggi.

Lewat berbagai medium ini, kita bisa melakukan banyak hal bareng. Di twitter, kita bisa saling berbalas kicauan. Di facebook kita bisa komen status. Di skype kita bisa karaoke bareng. Kalau mau menari telanjang ya monggo, asal dilakukan di ruang tertutup dan sudah merasa berani bertanggungjawab. Sex by phone juga bisa dilakukan kok. Aman dan tidak berisiko. Soal halal haram, mari kita tunggu fatwa saja.

Intinya jarak tidak membuat kehilangan kesempatan untuk berkegiatan bareng-bareng. Kebersamaan itu tidak selalu kebersamaan lokasi, tetapi juga kebersamaan waktu kan?

Aku pernah mengkombinasikan pacaran lewat dua jejaring sosial. Kami karaoke bareng lewat Skype lalu menuliskan lirik di twitter. Kelihatan norak emang tapi menyenangkan kok. Ya lebih baik sih daripada Cuma ngegalau di twitter. Apalagi sampai meratapi kejombloan.

Tapi yang mesti tetap diingat, semua obrolan dilakukan sesuai porsi dan tidak berlebihan. Ngobrol itu pasti memiliki batas jenuh. Sama seperti pacaran. Selalu akan menemukan titik bosan. Lalu apa yang mesti dilakukan? Tentu saja kita harus mengalihkan ke kegiatan lain.
Semuanya tergantung selera. Yang pasti, saya ingin mengingatkan, berhentilah berbincang ketika topik pembicaraan sudah habis. Jangan terlalu sering berucap gombal kepada pacar sendiri apalagi pacar orang lain. Lho?

Soal obrolan di telepon, pengalaman membuktikan, durasi perbincangan terlalu lama justru tidak baik. Awalnya memang menyenangkan. 10 menit pertama masih bisa ketawa-ketawa. Sepuluh menit berikutnya, frekuensi tawa mulai menurun. Setelah kehilangan topik, biasanya akan lebih banyak diem atau pengulangan pertanyaan yang sudah-sudah. Garing banget kalau sudah seperti ini.

Daripada buang-buang pulsa, lebih baik segera tutup telepon. Ucapkan selamat tidur dan tidurlah. Atau lanjutkan dengan sms. Percayalah, kata-kata itu memiliki sejuta makna.

Pesan terakhir, jangan lakukan kegiatan lain jika alasan menutup telepon adala sudah ngantuk. Nanti dikeplak pacar :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s